Mebel Jengki


Mebel atau perabot bergaya jengki cukup populer di Indonesia pada dekade tahun 1960an, dari kota sampai pedesaan mebel jenis ini banyak dijumpai dalam berbagai bentuk. Walaupun demikian desain mebel jengki bukanlah desain asli dari Indonesia.

Kata jengki berasal dari kata yankee, sebutan untuk tentara Amerika Serikat yang mendukung pemerintah Vietnam Selatan pada tahun 1960-an. Mereka membawa serta budaya serta penampilan baru, pada masa itu, produk model baru disebut dengan embel-embel jengki, misalnya celana jengki (celana jeans), sepeda jengki, dan aristektur jengki. Pada tahun 1960-an, banyak rumah-rumah penduduk dibangun dengan gaya jengki, gaya populer yang memiliki keserupaan dengan gaya streamlining (wikipedia).

Kata jengki berasal dari kata yankee, sebutan untuk tentara Amerika Serikat yang mendukung pemerintah Vietnam Selatan pada tahun 1960-an. Mereka membawa serta budaya serta penampilan baru, pada masa itu, produk model baru disebut dengan embel-embel jengki, misalnya celana jengki (celana jeans), sepeda jengki, dan aristektur jengki. Pada tahun 1960-an, banyak rumah-rumah penduduk dibangun dengan gaya jengki, gaya populer yang memiliki keserupaan dengan gaya streamlining (wikipedia).
Streamline Moderne, kadang-kadang disebut sebagai Art Moderne adalah tipe akhir dari Art Deco, gaya artistik dan desain yang dimulai di Paris pada tahun 1920 dan berkembang secara internasional sepanjang 1930-an sampai ke era Perang Dunia II. 
Di Indonesia gaya streamline pada mebel mengalami pengembangan lebih lanjut dengan penerapan bahan yang banyak terdapat di Indonesia, seperti rotan yang dianyam sebagai pengganti busa pada kursi. Gaya ini secara terus menerus mengalami pengembangan, yang kemudian bertaut dengan gaya Streamlining dan dikenal sebagai gaya Streamline Deco yang diadaptasi dari gaya Yankee Amerika. Gaya Streamline Deco ditandai oleh bentuk-bentuk polos dan melancip untuk beberapa bagian seperti halnya ciri utama gaya Streamline ( Sachari, Pergeseran Gaya Pada Desain Furnitur Indonesia Abad Ke-20 Jurusan Desain Interior, Fakultas Seni dan Desain – Universitas Kristen Petra) dan bentuk 'V' terbalik.
Mebel antik/vintage bergaya Jengki di Indonesia umumnya terbuat dari kayu jati yang berkualitas dan banyak ditemui terbuat dari kayu jati solid dengan potongan papan yang lebar serta teknik pembuatan yang rapi, walaupun demikian harga jual dari pedagang-pedagang barang antik masih relatif murah bahkan jika dibandingkan dengan mebel-mebel buatan baru yang kualitas kayunya jauh lebih rendah..

Mebel Art Nouveau (Semarangan)

Art Nouveau adalah sebuah aliran / style seni rupa modern yang marak pada akhir abad ke-19 dan awal abad ke-20 di Eropa daratan. Art nouveau merupakan lanjutan dari Art and craft movement. Abad ke-20 merupakan masa yang subur bagi berbagai jenis seni rupa modern untuk berkembang, hal ini dikarenakan pesatnya perkembangan teknologi dan pengaruh-pengaruh budaya baru dan juga didukung oleh industrialisasi, kolonialisme, urbanisasi, dan revolusi industri

Karya Art Nouveau biasanya dicirikan dengan bentuk-bentuk plastis dan organis, tapi tetap mengandalkan prinsip-prinsip geometris (sebagai perbandingan: Art Deco yang geometris, kaku meski menggambarkan figur-figur hewan, bunga, atau manusia).


Salah satu perkembangan Art noveau yang mempengaruhi desain di tanah air adalah desain mebel serta ukiran yang ada di Jepara. Desain pada kursi, meja ataupun sekedar hiasan dinding menggunakan ukiran – ukiran berupa tumbuh – tumbuhan, dengan sulur – sulur yang meliuk – liuk ini tanpa kita sadari bahwa Art Nouveau sendiri telah masuk ke Indonesia. 




Art Deco di Indonesia dikenal dengan mebel-mebel model sederhana dengan ujung-ujung lengkung, namun memanfaatkan kualitas kayu jati baik lebar bidang maupun corak kayu. Sedangkan Art Nouveau yang di Jawa kemudian dikenal dengan model mebel Semarangan adalah model penuh ornamen bunga dan tumbuh-tumbuhan yang meliuk-liuk plastis penuh kelokan.